Senin, 22 April 2013

Kabar Sahabat

Hari ini, Sabtu tanggal 14 bulan Agustus 2012 yang seharusnya menjadi hari spesial bagi sahabatku tapi berubah 360 derajat seketika. Siang hari yang sangat terik tak mampu mengusir rasa lemas dan gelisah tanpa daya mendengar keadaan sahabatku yang begitu memilukan tanpa ada seorang pun yang tahu keadaannya. Memang benar, hanya aku saja yang begitu tahu luar dalamnya sahabatku ini. Keadaannya yang semakin buruk tidak aku sadari ketika kita masih ngobrol via telepon. Dia selalu berusaha menutupi rasa sakit yang dideritanya dengan tawa lepas canda mencandaiku, sehingga aku kurang begitu memperhatikan keadaan dia secara peka. Sakit kepala yang semakin parah yang aku tau sudah seminggu ini berlangsung. Namun, dia tetap menutupi semuanya dengan tetap sekolah dan beraktifitas seperti biasa. Memang, dia seorang yang tidak suka membebankan segalanya kepada siapapun. Sakit yang dideritanya hanya mau dia tanggung sendiri. Namun, bahagia yang dia dapat mau dia bagikan kepada semua orang. Kehadiran seorang pacar yang belakangan ini mampu mengusir rasa sakit dan deritanya. Pacarnya memang sayang banget sama dia, namun mungkin karena sifat dia yang selalu menutupi segala sesuatu membuat pacarnya sendiri tidak faham betul tentang sikap dan keadaan yang selama ini dia hadapi. Singkat cerita siang itu menjadi hari yang buruk bagi dia. Sampai tiba-tiba ponselku berdering dikejutkan kabar yang tidak sedap dari dia sendiri. “Bro, sakitku tambah parah nih. Tolong dong anterin aku ke Rumah Sakit.” serunya. “Iyaa bro, aku akan jemput kamu.” balasku. Sesaat sampainya aku dirumahnya, lalu aku mengantar dia ke Rumah Sakit terdekat. Tak ku duga-duga ternyata dia divonis menderita tumor otak. Kaget bercampur sedih datang begitu aku mendengar semua itu. Tapi untunglah tumor ini masih stadium 2 dan bisa dioperasi. Aku sarankan dia untuk dioperasi agar semuanya tuntas. Dan dia pun menyanggupi saranku. Selama operasi itu berlangsung, aku mencoba untuk menghubungi keluarga dan pacarnya. “Nis datang ke Rumah Sakit Kasih Ibu, pacarmu lagi dalam keadaan kritis.” kataku. Nisa yang saat itu baru pulang dari lesnya langsung buru-buru pergi ke Rumah Sakit. Aku tak mengerti kenapa dia tidak pernah cerita dengan semua yang dia alami selama ini. Sebagai sahabat aku merasa sangat bersalah, membiarkan seorang teman terbujur kaku tanpa daya yang harus berusaha melawan penyakitnya itu. Waktu demi waktu berlalu, dia sedang melewati masa kritisnya utuk kembali tersenyum. Keadaan ini membuat Nisa semakin khawatir. Nisa dengan setianya menunggu masa-masa sulit yang akan dilewati oleh sahabatku ini. Tapi, Tuhan berkehendak lain. Sahabatku pergi meninggalkan kami disini dengan penuh air mata kesedihan. Dia pergi meninggalkan sejuta kenangan yang tak akan pernah aku lupakan.

0 komentar:

Posting Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More