Fenomena alergi secara kuantitas cenderung meningkat bahkan ketika tingkat pemahaman masyarakat tentang kebersihan semakin meningkat. Kejadian alergi justru lebih banyak dialami oleh masyarakat yang tinggal di daerah urban / perkotaan. Dalam dunia kedokteran, dikenal sebuah statement, more hygiene more allergic, yang mengandung pengertian bahwa semakin baik tingkat penjagaan kebersihan masyarakat, semakin besar pula kemungkinan terjadi alergi.
Alergi merupakan reaksi hipersensitivitas tipe I, di mana system imun tubuh merespon antigen yang masuk (faktor-faktor pemicu alergi, contoh : debu, makanan tertentu) dan telah dikenali sebelumnya secara berlebihan. Reaksi hipersensitivitas tipe I ini disebut juga sebagai reaksi hipersensitivitas tipe cepat. Begitu antigen masuk, respon yang muncul terjadi sangat cepat. Respon alergi dapat berupa gatal-gatal, kulit melepuh, mata berair, sampai sesak nafas. Respon alergi merupakan hal yang terkadang cukup mengkhawatirkan para orang tua.
Kejadian alergi merupakan hal yang bersifat individual. Kejadian alergi dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, faktor keturunan diduga turut menyumbang kejadian alergi pada seseorang.Pemakaian antiseptik (sabun, cairan antiseptic) pada anak-anak pun menjadi hal yang diduga menjadi faktor penyebab semakin meningkatnya kejadian alergi pada anak maupun setelah anak tumbuh dewasa. Secara biomolekuler, anak yang tumbuh dalam lingkungan yang sangat hygiene akan membangun pertahanan dini di mana komponen sel limfosit T-Helper II meningkat jumlahnya. Sel ini bertanggung jawab terhadap respon tubuh terhadap antigen/bakteri yang menginvasi tubuh. Dalam jumlah yang besar, sel ini dapat menjadi penentu respon alergi. Namun demikian, berbeda dengan anak yang tumbuh dalam lingkungan yang tidak terjamin kebersihannya, maka tubuh akan cenderung membangun system di mana kadar sel limfosit T-Helper I meningkat. Sel ini bertanggung jawab sebagai sel imunosupresif yang menghambat kerja dari sel limfosit T-Helper II. Akibatnya, anak yang tidak diperhatikan hygiene nya (tumbuh dalam lingkungan yang kotor), akan cenderung lebih mudah sakit dan mengalami hambatan pertumbuhan.
Menghindari faktor pemicu merupakan penanganan terbaik bagi penderita alergi. Melalui pengalaman, zat yang diduga sebagai pemicu sebisa mungkin harus dihindari. Misalnya : seorang anak yang alergi terhadap daging ayam harus menghindari makan daging ayam. Saat ini dunia medis pun telah memfasilitasi masyarakat dengan tes uji alergi (skin prick test) untuk mengetahui bahan-bahan apa saja yang merupakan allergen bagi seseorang. Jika ada anggota keluarga yang menderita alergi, segera konsultasikan ke dokter terdekat untuk mengetahui dan berkonsultasi tentang manajemennya sehingga kejadian alergi dapat terkontrol dan tidak semakin parah.
dr. Muchtar
Sumber : WWW.SEHAT.INFO



0 komentar:
Posting Komentar