‘SELAMAT DATANG ALUMNI SMP HARAPAN’
Kalimat itu seolah menyambut kedatangan seorang perempuan yang baru saja keluar dari mobil merah miliknya. Ia mengenakan celana jeans berwarna biru tua dan kemeja polos jingga miliknya. Sepatu flat ia gunakan sebagai pelengkap penampilannya hari ini. Perempuan itu menatap cukup lama tulisan tersebut sebelum matanya mulai menjelajahi setiap sudut bangunan. Tempat ini terlihat berbeda dari ingatannya. Ya, waktu sudah mengubah bangunan yang pernah menjadi tempatnya bersekolah itu. Dan gedung ini—gedung yang tepat berada di hadapannya, ia baru pertama kali melihatnya. Ia ingat ketika pembangunan gedung ini, ia adalah siswa tingkat akhir sehingga ia tak pernah tahu bentuk akhir dari gedung berlantai tiga tersebut. Sebuah senyum terukir di bibirnya. Ia tak dapat menyembunyikan kebanggaannya kepada sekolah yang sudah membuatnya menjadi dirinya saat ini—seorang Ellin yang sukses mengepakkan sayapnya di dunia kepenulisan.
Sepuluh tahun yang lalu.
Seorang gadis tengah duduk termenung menatap beberapa buku di hadapannya. Sesekali ia menggaruk pelan kepalanya. Lima menit telah berlalu sejak bel istirahat berbunyi. Suasana kelaspun terlihat lebih lengang karena sebagian besar penghuninya kini berada di kantin. Namun hal itu tidak menyurutkan niat sang gadis untuk terus berkutat dengan kegiatannya mengerjakan soal Matematika. Tinggal satu soal lagi dan ia akan menyelesaikan soal yang seharusnya menjadi pekerjaan rumahnya tersebut. Hanya satu soal, tapi kenapa sulit sekali? Ia sudah mencoba beberapa cara dan hasilnya nihil.
“Masih belum selesai?” Sebuah suara mengagetkan Ellin dan memaksa gadis itu mengalihkan pandangannya. Dilihatnya seorang pemuda berperawakan tinggi sedang berdiri di depannya. Pemuda itu memperhatikan pekerjaan Ellin.
Ellin menggelengkan kepalanya. “Belum,” jawabnya dengan tampang memelas.
Tanpa pikir panjang, sang pemuda mengambil buku di hadapan Ellin kemudian menutupnya. “Sudahlah. Kamu bisa melanjutkannya nanti.” Ia memberikan saran pada gadis yang dikenalnya sebagai gadis yang cukup keras kepala itu. “Ini, minumlah,” tambahnya sembari menyodorkan sebuah botol minuman.
Ellin berpikir sejenak sebelum akhirnya mengambil botol tersebut dari tangan pemuda itu. “Terima kasih, Galang. Kebetulan, aku haus sekali,” ujarnya dengan senyum lebar di bibirnya. Ia senang ada orang yang memperhatikan dirinya. Apalagi orang itu adalah sahabatnya sendiri.
Galang tersenyum kecil melihat tingkah Ellin. Tangannya mengacak pelan rambut gadis yang sudah menjadi sahabatnya sejak kecil itu. “Iya, sama-sama.”
Ellin menepis tangan Galang dengan agak kasar. Ia menekuk wajahnya dan menunjukkan ketidaksukaannya terhadap sikap Galang. “Hentikan. Aku tidak suka,” ucapnya tegas. Ia bukan anak kecil yang suka diperlakukan seperti itu. Ia sudah berulang kali mengatakannya pada Galang. Harusnya pemuda itu tahu. Tapi kenapa ia masih melakukannya?
“Habis kamu lucu,” bela Galang masih dengan cengiran yang menghiasi wajahnya.
Perlahan semburat merah muncul di kedua pipi gadis yang menjadi lawan bicara Galang. Entah kenapa wajah Ellin terasa panas. Jantungnya juga, kenapa berdebar-debar seperti ini? Dan kini lidahnya menjadi kelu bahkan hanya untuk membalas ucapan Galang. Apa yang terjadi? Tidak ada yang salah dengannya, kan?
“Ada apa ini?” tanya sebuah suara yang langsung dikenalinya sebagai suara Mia, salah satu sahabatnya. Ia datang bersama seorang pemuda yang memiliki perawakan persis seperti Galang. Mulai dari kepala sampai kaki, semuanya mirip. Bahkan model rambut mereka juga sama. Yang sedikit membedakan adalah tanda lahir mereka, satu di tangan kiri dan satunya di tangan kanan. Ya, mereka merupakan saudara kembar, Galang dan Gilang. Dan tanda lahir di tangan kanan adalah milik Galang.
“Kamu sudah menyelesaikan soal Matematika tadi?” Gilang ikut-ikutan bertanya.
“Belum. Tinggal satu soal. Susah sekali.” Ellin mengadu. Ia berharap agar teman-temannya yang terkenal pandai itu mau membantunya. Toh, ini hanya pekerjaan rumah. Jadi tak masalah, kan, jika saling membantu?
“Nanti kita kerjakan di rumahmu saja,” kata Gilang yang langsung mendapat tatapan senang dari Ellin. Ah, mereka benar-benar baik.
“Aku diajak, kan?” tanya Mia yang sontak menjadi pusat perhatian mereka. Sepertinya pertanyaan ini tidak membutuhkan jawaban. Walaupun rumah Mia berada paling jauh di antara mereka berempat, namun ia tetaplah sahabat mereka. Apakah persahabatan perlu diukur dengan jarak rumah? Tentu saja tidak.
“Tentu saja, Nona Mia,” ujar Galang menggoda Mia. Sementara Mia hanya tersenyum malu mendengar perkataan Galang.
Melihat kejadian itu, timbul sebersit perasaan tidak suka di hati Ellin. Apalagi setelah melihat ekspresi wajah Galang dan Mia, rasa tidak sukanya semakin bertambah. Bukankah ia tidak suka jika Galang menggodanya seperti tadi? Tapi kenapa ia tambah tidak suka jika Galang menggoda Mia? Sebenarnya ada apa dengannya?
***
Hari ini berlangsung acara perpisahan sekolah. Sebuah acara yang khusus diadakan bagi mereka—siswa tingkat akhir yang telah dinyatakan lulus. Pengisi acara hampir seluruhnya adalah siswa sekolah ini dengan menampilkan kesenian khas Indonesia. Ada pula guru-guru yang memberi sambutan serta doa agar mereka yang telah lulus mendapatkan kesusesan besar. Dan yang paling ditunggu-tunggu adalah penampilan band sekolah yang merupakan akhir dari acara perpisahan ini.
Ellin berjalan mengelilingi sekolah. Diperhatikannya setiap sudut sekolah. Sebentar lagi ia akan meninggalkan sekolah ini. Jadi dia ingin melihat sekolahnya untuk yang terakhir kali dan merekam kenangan indahnya selama bersekolah di sini. Apakah itu yang dilakukannya sekarang? Ternyata tidak. Ia memang memperhatikan setiap sudut sekolah untuk mencari seseorang. Ah, bukan. Harusnya tiga orang karena ia belum bertemu ketiga sahabatnya. Ellin yakin jika Galang, Gilang, dan Mia sudah berada di sekolah. Mereka berempat sudah berjanji akan berangkat pukul delapan. Setengah jam telah berlalu dan ia sama sekali belum melihat batang hidung mereka.
Ellin memutuskan untuk beristirahat ketika untuk kedua kalinya kakinya menapaki ruang kelasnya. Ia memilih duduk di kursi paling depan. Kelas ini sepi. Tak ada siswa yang berada di dalam kelas, kecuali Ellin tentunya. Aneh juga melihat kelasnya tanpa penghuni seperti ini. Terasa asing dan sedikit menakutkan. Tapi kakinya masih terlalu lelah untuk diajak berjalan kembali. Hanya lima menit saja. Setelah itu ia akan pergi.
Seulas senyum tersungging di bibir mungilnya tatkala sebuah kenangan manis terlintas di benaknya. Masih ingatkah dengan kejadian saat Galang menggodanya? Dan juga perasaan aneh yang timbul karenanya? Cukup lama bagi Ellin untuk menyadari bahwa ia menyukai Galang. Bukan sekedar suka. Galang adalah cinta pertama Ellin. Bodohnya ia baru menyadari perasaan itu ketika mereka harus berpisah. Ya, keluarganya memutuskan untuk pindah keluar kota. Tentu saja Ellin ikut karena tidak mungkin orang tuanya akan meninggalkannya sendirian di kota ini. Tak ada kesempatan untuknya dan Galang. Ia menyerah. Takdir memang kejam. Tapi tak apa. Toh, ini hanya cinta pertama. Ellin yakin, ia akan merasakan cinta lain suatu saat nanti.
Lima menit berlalu. Ellin mulai beranjak dari tempat duduknya. Ditatapnya ruang kelasnya sekali lagi sebelum akhirnya ia pergi meninggalkan kelas yang sudah satu tahun ditempatinya itu. Namun, baru beberapa langkah ia berjalan, ia dikejutkan dengan kedatangan seseorang. Ia memperhatikan orang tersebut dengan seksama. “Gilang?” tanyanya sedikit ragu. Terkadang ia masih bingung untuk mengenali Galang dan Gilang—si kembar identik itu. Mereka juga sering menjahilinya dengan bertukar nama. Pernah suatu kali ia yakin bahwa ia mengenali salah satu di antara mereka sebagai Gilang. Tapi Gilang justru mengatakan bahwa ia salah menyebut nama. Lalu sedetik kemudian mengatakan bahwa dia benar. Membingungkan, kan? Ia sendiri juga bingung kenapa ada orang seperti mereka.
“Aku mencarimu dari tadi,” keluh pemuda itu.
Ellin mengernyitkan dahinya. “Aku yang mencarimu sejak tadi.” Ellin ganti mengeluh. Ia benar, kan? Ia sudah mencari mereka sejak setengah jam yang lalu. “Mana Galang dan Mia?” tanyanya kemudian.
Gilang berpikir sejenak. “Mereka ada di perpustakaan,” jawabnya.
“Kalau begitu, ayo kita ke sana.” Tanpa pikir panjang Ellin mulai melangkahkan kakinya. Apalagi yang ditujunya selain perpustakaan—tempat yang dikatakan Gilang. Ia ingin segera bertemu dengan mereka dan menyampaikan rencana kepindahannya. Ia memang belum mengatakannya pada ketiga sahabatnya itu. Bukan tidak ada kesempatan karena nyatanya ia mempunyai banyak kesempatan yang dapat digunakannya. Hanya saja ia tidak mampu mengucapkannya. Ia terlalu takut untuk kehilangan mereka.
“Nanti saja,” cegah Gilang. Ia memegang salah satu lengan yang membuat gadis itu menghentikan langkahnya. Ellin menatapnya bingung. Kenapa harus nanti? Kenapa tidak sekarang? Dan seolah mengerti pikiran Ellin, Gilang kemudian berkata, “Mia ingin mengatakan sesuatu pada Galang.”
Ellin menaikkan salah satu alisnya. Jawaban Gilang justru semakin membuatnya bingung. “Aku juga ingin mengatakan sesuatu pada mereka.” Ia tak mau kalah.
“Jangan,” cegah Gilang lagi.
Kesabaran Ellin mulai habis. Ditepisnya tangan Gilang. Ia mendengus kesal. “Ada apa, sih, sebenarnya? Katakan terus terang saja,” ujarnya sedikit membentak. Ia paling benci dengan orang yang berbelit-belit seperti ini. Apa susahnya berkata secara langsung?
Gilang terlihat sedang berpikir. Ia menatap Ellin dan dibalas dengan tatapan tajam dari gadis itu. Akhirnya ia menyerah. “Mia sedang menyatakan perasaannya pada Galang.”
Kalimat itu layaknya guntur bagi Ellin. Menyatakan perasaan? Perasaan apa yang dimaksud Gilang? Rasa terima kasih, rasa bersalah, rasa bahagia, ataukah rasa sedih? Manakah di antara keempat perasaan itu yang saat ini tengah dinyatakan oleh Mia? Atau masih adakah perasaan lain yang belum ia sebutkan? Ia berusaha menghilangkan kekhawatirannya.
“Mia sudah lama menyukai Galang. Jadi aku membantunya agar dia dapat mengatakannya pada Galang,” tambah Gilang yang langsung membuat hujan di hati Ellin. Apa yang ditakutkannya benar-benar terjadi. Perasaan cinta, sebuah perasaan yang dirasakannya pada Galang, kini juga dirasakan oleh sahabatnya sendiri. Dengan kata lain, Mia adalah saingannya. Ah, tidak. Kata ‘saingan’ mungkin terlalu ekstrim untuk diucapkan karena nyatanya mereka memang tidak pernah bersaing. Ellin sudah memutuskan menyerah bahkan sebelum ia memulai usahanya.
“Ellin,” panggil Gilang. Panggilan itu seketika membuyarkan lamunan Ellin dan mengembalikan kesadaran gadis itu.
“Iya.”
“Aku juga ingin mengatakan sesuatu,” ujar Gilang ragu.
Apa lagi sekarang? Kenapa semua orang ingin mengatakan sesuatu? Tidak cukupkah kenyataan pahit yang diterimanya barusan? Ellin bertanya-tanya dalam hati. “Katakan saja,” perintahnya.
“Aku menyukaimu. Kamu mau jadi pacarku, nggak?”
Layaknya sebuah bom, kalimat itu bagai meluluhlantakkan hatinya. Bagaimana tidak? Setelah mengetahui bahwa Mia, sahabatnya yang juga menyukai orang yang disukainya, kini ia mendengar bahwa adik dari orang yang disukainya ternyata menyukai dirinya. Memang semua orang berhak untuk jatuh cinta. Namun ia tidak pernah mengharapkan cinta seperti ini.
Cukup lama Ellin terdiam. Ditatapnya sahabatnya itu dengan mata sendu. Ia sudah memiliki jawaban, tapi bisakah ia tidak mengatakannya? Ia tidak ingin Gilang merasakan perasaan sama seperti yang ia rasakan. “Maaf, aku nggak bisa,” ucapnya lirih. Dan dengan kata itu, ia mengakhiri persahabatan mereka.
---
Ellin tersenyum miris. Ia ingat setelah kejadian itu, Ellin memutuskan untuk pulang. Tak dipedulikannya acara perpisahan yang harusnya ia ikuti. Kata perpisahan yang ingin diucapkannya kepada mereka—ketiga sahabatnya, hanya menjadi keinginan belaka. Ia tak pernah mengatakannya. Akan lebih baik jika mereka tak pernah mengetahuinya, pikirnya saat itu. Dan apakah ia menyesalinya? Tidak. Persahabatan yang telah tercampur dengan cinta, bagaimana ia akan bersikap setelahnya? Ia tidak mungkin tetap tersenyum dan bersikap biasa di hadapan mereka, sementara rasa bersalahnya pada Gilang masih menyelimuti hatinya. Rasa sakit hatinya pada Galang dan Mia juga tidak akan mudah hilang begitu saja. Satu-satunya cara yang bisa ia lakukan adalah menjauhi mereka. Mungkin terdengar kekanakan, tapi mau bagaimana lagi? Ia butuh waktu untuk melupakan segalanya—perasaan bersalah, sakit hati, dan cinta pertamanya sehingga ketika mereka bertemu kembali, perasaan itu sudah tidak ada. Ia ingin mengenal mereka sebagai Ellin yang baru dan menjalin persahabatan yang baru dengan mereka.
Ia menyibukkan diri untuk melupakan kenangan pahit itu dan ia juga tidak ingin mengingatnya karena hanya akan mengembalikan perasaannya dulu. Keinginan memang tak seindah kenyataan yang terjadi. Sebanyak apapun usaha yang dilakukan Ellin, tak dapat dipungkiri bahwa mereka adalah sahabatnya dan merupakan bagian dari kehidupannya. Terkadang ia merindukan mereka. Terkadang ia juga membenci mereka. Dia memang jahat karena meninggalkan ketiga sahabatnya tanpa kabar apapun, bahkan hanya untuk sebuah nomor telepon. Ia terpaksa melakukannya. Terlalu banyak yang ia alami kala itu.
Namun kini ia berdiri di sini—di tempat semua kenangan manisnya dengan sahabatnya terjadi. Sepuluh tahun telah berlalu. Bukan waktu yang sebentar memang, tapi cukup untuk mengubahnya menjadi wanita dewasa. Kenangan pahit itu—ia sudah menganggapnya sebagai lika-liku kehidupan remaja. Ia sudah melupakan semua perasaan yang dulu pernah dirasakannya. Hanya saja masih ada sedikit perasaan bersalah karena memutuskan persahabatannya secara sepihak. Ia akan minta maaf jika bertemu mereka nanti.
“Hai, Ellin.”
Ellin tersentak tatkala mendengar namanya dipanggil. Ia menoleh dan mendapati tiga orang tengah berdiri di hadapannya. Tidak sulit bagi Ellin untuk mengenali mereka—Galang, Gilang, dan Mia. Penampilan Galang dan Gilang kompak. Mereka menggunakan kemeja kotak-kotak berwarna biru tua dipadukan dengan jeans hitam. Tak lupa sepatu sneakers putih sebagai pelengkapnya. Sedangkan Mia memakai dress selutut berwarna hijau tosca. Rambutnya dibiarkan terurai yang semakin membuatnya terlihat cantik. Tangannya menggelayut manja pada salah satu lengan si kembar yang langsung dapat dikenali Ellin sebagai Gilang. Oh, dia tak akan lupa bahwa hanya Gilang yang memiliki tanda lahir itu di tangan kiri. Mereka berdua—Gilang dan Mia tersenyum lebar padanya. Ia pun membalasnya dengan senyuman yang tak kalah lebar.
Salah satu di antara mereka, Galang, perlahan berjalan ke arahnya. Tepat di depan Ellin, ia berhenti. Ia terlihat ragu. Namun sedetik kemudian tangannya terulur ke arahnya. “Aku sudah lama menunggumu,” ujarnya dengan senyum yang melengkapi wajah rupawan pria itu.
Tentu saja Ellin terkejut dengan sikap Galang yang ditunjukkannya secara tiba-tiba itu. Ia tersenyum dan membalas uluran tangan pria yang pernah menjadi cinta pertamanya. Ah, sepertinya pria itu akan tetap menjadi cintanya.



0 komentar:
Posting Komentar